Senin, Desember 11News That Matters

Dampak Penutupan Bandara, Maskapai Penerbangan Merugi 67,5 Miliar Sehari

Industri pariwisata Bali sekarang ini sedang berjuang. Di tengah erupsi Gunung Agung yang sampai saat ini belum mencapai klimaks, perjuangan pebisnis di Bali adalah bagaimana meyakinkan wisatawan daerah ini masih aman dikunjungi.

Kepanikan para pemilik toko yang terus meyakinkan wisatawan bahwa keadaan aman, sering terdengar. Namun, letusan Gunung Agung pun mengungkapkan cerita lain.

“Kami masih buka, jaraknya 18 kilometer dari gunung Agung. Gunung yang lain melindungi kita, Angin dan abu tidak mencapai Amed,” Ujar Nyoman Miskin Aryana dikutip vivanews dari Sout China Morning Post, Kamis 30 November 2017.

Aryana adalah pengelola sebuah homestay berisi tiga kamar di Amed, sebuah desa pesisir Bali yang populer dengan wisata lautnya. Sebelum letusan ini terjadi, pariwisata di Amed yang terletak di ujung timur Bali memang lambat perkembangannya.

Saat ini sekitar 100 ribu orang tinggal di dalam area bahaya. Amed dan sebagian desa yang melapisi garis pantai distrik Karangasem berada di luar zona bahaya resmi. Tapi, hal itu tetap tidak menguntungkan bagi desa itu. Lokasinya yang diapit oleh gunung dan laut semenjak Gunung Agung beraktivitas pada September lalu, sepi pengunjung.

“Penduduk sekitar yang mengelola homestay, restoran, atau penyewaan motor sedang berjuang,” kata warga Prancis yang mengelola penyewaan alat selam di Amed, Arnaud Billon.

Arnaud menceritakan, kala itu tempatnya sedang melakukan lokakarya instruktur selam pada saat Gunung Agung pertama kali bergetar setiap hari pada September lalu. Wisatawan panik dan tempat usahanya akhirnya ditutup sementara.

Situasi mulai membaik pada bulan November, ada sejumlah wisatawan yang datang. Namun, hal itu tak berlangsung lama, sampai saat ini muntahan abu vulkanik Gunung Agung membuat bisnisnya kembali terganggu.

Sekarang ini menurutnya warga Amed merasa aman, bahkan jika gunung itu meletus. Tapi, mereka frustasi karena kekurangan pemasukan, banyak mata pencahariannya yang bergantung pada pariwisata.

Di sisi lain, penutupan Bandara Ngurah Rai, Bali yang berlangsung pada 26 November 2017 hingga 29 November 2017 akibat dampak sebaran abu vulkanik Gunung Agung telah membuat pemasukan maskapai dunia hilang setiap harinya.

Chief Executive Perusahaan Riset Transportasi Crucial Perspective, Corrine Pn mengatakan, dalam satu hari jika Bandara Ngurah Rai Bali tidak beroperasi maka total pendapatan sekitar 47 maskapai yang terbang ke pulau dewata akan hilang sekitar 5 juta dollar AS atau setara Rp67,5 miliar (kurs Rp13.500 per dolar).

“Ini akan semakin buruk bagi maskapai penerbangan terlebih sekarang ini berada dalam puncak musim perjalanan liburan dan rute Bali sangat menguntungkan,” katanya.

Dikutip dari Reuters, pada Kamis 30 November 2017, penutupan bandara tersebut mengakibatkan sejumlah maskapai penerbangan dunia membatalkan penerbangan hingga mengalihkannya ke tujuan lain.

Bahkan, jika kondisi Gunung Agung kembali meningkat, para ahli penerbangan menyatakan, maskapai sebaiknya mempertimbangkan untuk mengurangi frekuensi penerbangan ke Bali dalam jangka panjang untuk kurangi risiko.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *