Senin, Desember 11News That Matters

Erupsi Gunung Agung Menjadi Daya Tarik Wisata

wisata erupsi
gunung agung menjadi objek wisata baru

Ketua Asosiasi Agen Wisata dan Perjalanan (ASITA) Bali, I Ketut Ardana, mengakui aktivitas letusan Gunung Agung menyebabkan keadaan pariwisata di Bali merosot. Khususnya, kata dia, ketika Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai sempat tidak beroperasi.

Meskipun begitu, Ardana menilai erupsi Gunung Agung adalah peristiwa unik yang menarik untuk dinikmati. “Wisatawan tertarik. Memang ada turis tertentu yang minat khusus,” katanya, Jumat, 1 Desember 2017.

Namun, menurut Ardana para turis yang berminat melihat aktivitas Gunung Agung harus berada di zona yang aman. Ia mencontohkan semisal di kawasan Sanur.

“Sanur tempat turis menginap, pasti banyak yang berminat melihat (Gunung Agung). Jadi, otomatis turis juga akan manfaatkan itu, karena Sanur kan sudah pasti aman,” ujarnya. Tetapi, Ardana tak menampik ada juga turis yang nekat ingin melihat pemandangan Gunung Agung dari radius 10 kilometer.

Menurut Ardana meskipun turis manca negara tertarik ingin menikmati pemandangan aktivitas Gunung Agung, namun pihaknya tidak menyediakan paket wisata khusus untuk itu. “Travel agent tidak secara khusus mempromosikan,” ujarnya.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan bahwa Indonesia bisa belajar dari Islandia. Sutopo menjelaskan bahwa Islandia pernah mengelola letusan gunung menjadi obyek wisata.

“Gunung Eyjafjallajokull yang meletus mendatangkan jutaan turis dari seluruh dunia. Publikasi mengenai erupsi gunung berkontribusi pada kenaikan wisatawan yang datang ke Islandia,” ujarnya.

Namun menurut Sutopo wisata bencana perlu dikelola dengan baik. Persiapan wisatawan sebelum berkunjung dan rambu-rambu yang menunjukkan zona bahaya perlu disosialisasikan. Mengenai penanganan pengungsi, kata dia, pemenuhan kebutuhan mereka tetap tak bisa ditinggalkan.

“Jika dua hal ini dapat dipenuhi, maka letusan gunung bisa menjadi tujuan wisata tanpa mengabaikan pengungsi. Tak hanya pengungsi yang terbantu, namun juga kehidupan masyarakat di Bali yang sebagian besar hidup dari pariwisata,” tuturnya.

Bagi Sutopo bila pengelolaan tersebut berjalan dengan baik, maka terjalin harmoni antara wisatawan dan pengungsi. Wisatawan, kata dia, bisa menikmati pemandangan langka. “Pengungsi pun tak hanya menderita di lokasi pengungsian, mereka bisa menerima bantuan dan uluran tangan dari para wisatawan,” katanya.

Saat ini zona bahaya Gunung Agung adalah berjarak 8 kilometer. Adapun perluasan sektoral sepanjang 10 kilometer ke arah Utara-Timur Laut dan Tenggara-Selatan-Barat Daya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *