Senin, Desember 11News That Matters

Sungai Dialiri Lahar Dingin, Bisnis Rafting di Karangasem Tutup Sementara

Wisata olahraga arung jeram di Karangasem mulai lumpuh setelah letusan Gunung Agung Bali. Hal tersebut disebabkan lahar hujan yang bercampur dengan aliran sungai. “Saya sudah tidak buka sejak 25 November, karena tidak ada wisatawan datang setelah erupsi,” ujar pemilik Bali Mitra Wahana (BMW) Rafting, Wayan Sida, 66 tahun, Sabtu, 2 Desember 2017.

Starting point BMW Rafting berada di aliran sungai Telaga Waja yang membagi perbatasan Desa Rendang dan Menanga. Aliran sungai tersebut masih jernih tidak tercampur lahar. “Hanya 6 kilometer saja jernih, sisanya sudah dilwati lahar,” katanya.

Hal ini yang membuat Wayan Sida harus menunda sementara kegiatan bisnisnya demi mempertimbangkan faktor keselamatan para tamunya.

Pada 27 November aliran sungai Yeh Sah mengental tercampur lahar. Adapun rute rafting yang ia tawarkan berada di dua titik lokasi berbeda. Ada yang sejauh 12 kilometer. Ada juga yang 15 kilometer. Dua jalur tersebut melintasi aliran lahar di sungai Yeh Sah.

Berdasarkan pantauan, dua usaha wisata olahraga arung jeram lainnya yang berada tak jauh dari BMW Rafting juga tutup. Sida mengakui bisnisnya mengalami kerugian. “Karyawan mogok sudah saya suruh untuk mencari pekerjaan yang lain,” katanya.

Selain menjual arung jeram, kawasan BMW Rafting juga menyediakan fasilitas wisata olahraga flying fox. Itu pun, kata dia, juga harus berhenti beroperasi. Alasannya pun sama, ia mengkhawatirkan aliran arus lahar yang tak bisa ditebak.

“Flying fox dilakukan di tepian sungai, itu tetap berbahaya,” ujarnya. Sida memiliki pengalaman saat letusan Gunung Agung pada 1963. Ia menceritakan saat itu lokasi persawahan yang berada di tepi sungai tempat ia kini menjalankan bisnisnya terendam lahar.

Ia mengatakan sebelum Gunung Agung mengalami erupsi, jumlah kunjungan sehari bisa mencapai 100 orang. Tarif arung jeram untuk satu orang seharga, Rp. 160 ribu. Sedangkan flying fox, sebesar Rp. 100 ribu per orang. Usaha arung jeram milik Wayan Sida sudah berjalan 4 tahun. Sedangkan flying fox baru 1 tahun.

“Tamu banyak dari luar negeri, ada Cina, Arab, Rusia, Australia dan Kanada,” katanya.

Sekarang ini, ia tidak bisa mengakali kelumpuhan pendapatan dari bisnis wisata olahraga yang dikelola bersama keluarganya. “Kami sabar menunggu, karena ini kehendak alam. Saya sebagai pengusaha menunggu jalan keluar,” ujarnya.

Namun untuk kebutuhan sehari-hari Sida mengandalkan dari hasil padi di sawahnya seluas 60 are. Sedangkan untuk penghasilan ekonomi, ia menjual buah kelapa dan pisang di kebunnya seluas 40 are.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengimbau warga jangan beraktivitas di aliran sungai yang dialiri lahar Gunung Agung.

Kepala Bidang Mitigasi PVMBG Gede Suantika mengatakan arus lahar dari letusan Gunung Agung sangat berbahaya. “Itu (lahar) sifatnya mengental, menggerus sisi kiri dan kanan (sungai), karena air hujan tercampur material abu, pasir,” katanya. Dia pun mengimbau para wisatawan yang akan melakukan perjalanan wisata ke sana,”Jangan bermain-main di sana, sewaktu-waktu (lahar) bisa datang sekaligus.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *