Senin, Desember 11News That Matters

Selfie Dengan Latar Gunung Agung Dikritisi

Kondisi aktif Gunung Agung yang dalam beberapa hari terakhir bahkan telah memuntahkan lahar ternyata dimanfaatkan oleh sejumlah turis asing sebagai latar belakang untuk melakukan selfie. Tak ayal, foto-foto dengan tanda pagar “Mount Agung” dan “once in a lifetime” membanjiri instagram dalam beberapa hari terakhir.

Semua foto di medsos itu memperlihatkan latar belakang Gunung Agung dengan semburan asapnya sebagai panorama yang disebut sebagai sangat langka atau sekali seumur hidup. Ada yang berpose yoga dengan latar belakang Gunung Agung. Ada pula yang menunjukkan secangkir kopi di sebuah tempat dan di kejauhan terlihat jelas Gunung Agung mengeluarkan asapnya yang membumbung.

Bahkan ada juga dua turis perempuan yang sedang mengandung berpose dengan bikini sambil mengelus perutnya, dengan latar persawahan hijau dan Gunung Agung. Dalam foto-foto di instagram itu, tidak ada keterangan jelas di mana lokasi persis pengambilan foto-foto itu dan berapa jaraknya dari puncak kawah Gunung Agung.

Oleh karena itu, tidak diketahui apakah mereka berpose di lokasi di Kawasan Rawan Bencana (KRB) ataukah di luar itu. Yang bisa dikenali tempatnya hanyalah foto di kawasan Pura Lempuyangan, Karangasem, dengan latar belakang Gunung Agung. Yang jelas, pada beberapa foto terlihat para turis itu memakai masker anti debu saat berfoto.

Seorang perempuan asal Australia, Jill Powers, mengungkapkan ia justru pergi ke Bali karena berniat menyaksikan Gunung Agung dalam kondisinya saat ini. “Memang ini terdengar tolol, tapi benar bahwa melihat gunung berapi erupsi termasuk dalam daftar tujuan saya,” ujar Jill Powers seperti dikutip oleh dailymail.co.uk, Jumat (1/12) malam. “Saya kira ini ini akan menjadi satu-satunya kesempatan yang saya pilih,” tambahnya.

Walaupun demikian, dailymail mempertanyakan pose-pose “wisata erupsi” yang diposting di instagram itu. “Apakah mereka termasuk wisatawan yang tidak sensitif terhadap keadaan di sekitar mereka?” demikian dailymail mengkritik pengambilan foto dengan latar belakang erupsi Gunung Agung. Apalagi pengambilan foto itu dilakukan saat ada puluhan ribu warga Bali tengah mengkhawatirkan keselamatan diri mereka di sejumlah lokasi pengungsian.

Sebelumnya, dalam siaran persnya pada 30 November lalu, BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) mengungkapkan bahwa wisata bencana mengandung dilema. Muncul pro dan kontra, seperti yang terjadi di akun Twitter Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas (Pusdatin) BNPB. Sebagian warganet mendukung Sutopo yang mengkampanyekan wisata erupsi Gunung Agung. Di lain sisi, ada pula warganet yang mempertanyakan kenapa bencana dijadikan sebagai obyek wisata.

Menurut Pusdatin BNPB, Indonesia dapat belajar dari Islandia bagaimana mengelola dan mengubah letusan gunung menjadi obyek wisata. Di sana, Gunung Eyjafjallajokull yang erupsi telah mendatangkan jutaan turis dari seluruh dunia. Publikasi mengenai erupsi gunung ini berkontribusi pada lonjakan wisatawan yang datang ke Islandia.

Terlepas dari pro dan kontra tersebut, kata Pusdatin BNPB, sesungguhnya wisata bencana perlu dikelola dengan baik. Persiapan wisatawan sebelum berkunjung dan rambu-rambu yang menunjukkan zona bahaya perlu disosialisasikan. Oleh sebab itu, penyebaran informasi mengenai dua hal tersebut menjadi sangat diperlukan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *