Senin, Desember 11News That Matters

Tiga Tips Sebelum Membeli Properti di Bali

Bali adalah destinasi wisata impian bagi setiap manusia. Tidak hanya di mata wisatawan mancanegara saja, melainkan masyarakat Indonesia sendiri. Dari sektor bisnis properti, Bali juga selalu menjanjikan.

Bila selama ini banyak yang berpendapat bahwa investasi properti terbaik di Bali masih di sekitar kawasan Kuta, perlu diketahui bahwa kawasan di Bali Barat dan Bali Utara saat ini diyakini lebih prospektif.

Ada dua hal yang menjadi alasan kenapa kedua lokasi tersebut perlu menjadi pertimbangan investor. Pertama, kedua lokasi tersebut adalah lokasi yang dibuka seluas-luasnya oleh Pemerintah bagi perkembangan bisnis pariwisata di Bali. Kedua, sejak Pemerintah Daerah merilis kebijakan membuka luas ijin pembangunan hotel dan kondotel, maka kawasan seperti Jembrana dan Singaraja menjadi alternatif tepat bagi investor yang berminat untuk mengembangkan bisnis properti dan perhotelan di kedua wilayah tersebut.

Terlebih dengan kontur Bali barat yang secara geografis lumayan menarik, serta Bali Utara yang menjadi alternatif lokasi di Bali untuk pengembangan wisata pantai, laut dan wisata air lainnya. Apalagi jika melihat data yang dirilis Rumah.com Property Index, median harga rumah tapak di Bali pada kuartal satu, dua dan tiga di tahun 2017 terbilang stabil dengan peningkatan sekitar Rp800.000 per meter persegi.

Di awal tahun 2017, harga rumah per meter persegi berada di kisaran Rp12,42 juta. Banderol ini tidak mengalami kenaikan atau penurunan pada kuartal dua. Akan tetapi, di kuartal ketiga, harga pasaran dikoreksi positif menjadi Rp12,5 juta per meter persegi.

Apa saja aspek yang perlu diperhatikan ketika berencana membeli properti sebagai ladang investasi di Bali?

1. Beli saat harga stabil

Harga properti di kawasan wisata biasanya lebih stabil dibandingkan daerah lain. Pada momen tertentu harga cenderung booming dan saat lesu sekalipun, harga tak pernah terlalu jatuh. Kesimpulannya, belilah properti pada saat keadaan pasar tengah datar. Informasi tentang kondisi pasar terkini di Bali, bisa Anda tanyakan kepada yang jauh lebih berpengalaman seperti agen properti.

2. Beli diluar musim liburan

Pasar properti di kawasan wisata bersifat musiman, yang artinya harga relatif naik selama musim liburan dan kembali datar ketika para turis tidak berlibur. Saat Anda membeli properti di luar musim liburan, Anda akan bersaing dengan sedikit pembeli lain dan mempunyai lebih banyak waktu untuk memastikan keputusan serta merancang strategi tawar-menawar.

3. Beli ketika ada permintaan

Ketika permintaan terlalu tinggi, memaksa investor untuk mempertimbangkan rumah seken sebagai ruang investasi kedua. Asalkan, keputusan ini diambil karena permintaan sewa akan rumah penginapan di satu lokasi wisata begitu besar. Pastikan sebelum membeli, Anda telah melakukan riset pasar yang menunjukkan betapa banyaknya permintaan namun tidak diimbangi ketersediaan. Dengan begitu, investasi properti Anda akan meraup keuntungan sewa yang menggiurkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *