Senin, Desember 11News That Matters

Begini Pelaksanaan Saraswati Yang Bertepatan Dengan Nyepi

Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali mengadakan Pasamuhan Madya II, guna membahas tentang pelaksanaan dua hari raya besar, yakni Saraswati dan Nyepi, yang jatuhnya bersamaan pada Saniscara Umanis Watugunung, 17 Maret 2018. Pada pasamuhan itu diputuskan, Hari Raya Saraswati tetap digelar pada hari Sabtu, tapi mulai pagi hari sampai jam 06.00 Wita.

Ketua PHDI Provinsi Bali Prof Dr I Gusti Ngurah Sudiana MSi, menerangkan, pasamuhan kali ini diadakan khusus untuk membahas perayaan Saraswati yang jatuh bertepatan dengan Hari Raya Nyepi. Sebab sudah banyak masyarakat bertanya-tanya tentang pertemuan dua hari raya besar tersebut. “Umat banyak sekali yang menanyakan tentang jatuhnya dua hari raya besar ini. Banyak juga umat Hindu yang ingin tahu seperti apa nanti merayakan Saraswati di rumah dan di sekolah. Mereka kebingungan bagaimana nanti teknis pelaksanaan Saraswati,” ungkapnya di sela di Kantor PHDI Bali di Denpasar, Sabtu (2/12).

Hasil pasamuhan kemarin mengacu pada pedoman pelaksanaan Hari Raya Nyepi yang sebelumnya pernah jatuh bersamaan dengan hari raya lainnya seperti piodalan besar di pura tertentu. Hari Raya Saraswati tetap akan dilaksanakan pada hari yang sama, Saniscara Umanis Watugunung. Tapi, pelaksanaannya dimajukan, bisa dimulai dari pukul 03.00 Wita sampai jam 06.00 Wita. “Pokoknya jam enam itu sudah nggak ada suara genta, dupa, dan tepat pukul 06.00 Wita sembahyang Saraswati telah usai. Setelah itu umat dengan tenang memulai perayaan Nyepi sampai pukul 06.00 Wita keesokan harinya,” ujarnya.

“Sedangkan Banyu Pinaruh (rangkaian Saraswati) yang biasanya umat melukat ke pantai jam 04.00 sampai 06.00 Wita, diundur menjadi setelah jam 06.00 atau setelah kulkul dibunyikan pertanda Nyepi telah berakhir,” tandasnya.

Sementara untuk teknis pelaksanaan, aktivitas perayaan Saraswati atau jika yang kebetulan bertepatan ada piodalan saat itu, agar tidak mengundang keluarga jauh, tidak membunyikan gamela seperti gong, dan tidak mengundang sulinggih yang jauh. “Kalau sulinggih sekitar rumah masih bisa. Selain itu, tidak melibatkan orang banyak,” tuturnya.

Lebih lanjut, untuk pelaksanaan Saraswati di sekolah bagi murid dan guru ditiadakan. Namun persembahyangan Saraswati dilakukan oleh setiap siswa dan guru di rumah. “Khusus Sarasawati, pihak sekolah bisa matur piuning saja ke sekolah, lalu pelaksanaan untuk siswa dan guru dilakukan di rumah masing-masing. Demikian juga di perpustakaan, tempat lontar, dan sebagainya. Sehingga perayaan dari pertemuan dua hari raya ini tidak perlu terjadi benturan,” ucapnya.

Terkait upakara, menurut Dharma Upapati PHDI Bali Ida Pedanda Gde Wayahan Wanasari, dibuat saka sidan. Artinya dibuat semampunya. Sementara Prof Sudiana menambahkan umat bisa membuat banten alit agar tidak sampai mengundang sulinggih untuk muput. “Dibuat sesidan-sidannya, semampunya. Lebih penting lagi kita memaknai pertemuan hari raya yang langka ini dengan lebih yakin, tulus, dan ikhlas melaksanakan semua upacara-upacara tersebut,” ujar Ida Pedanda Wanasari.

Pertemuan dua hari raya ini tidak akan mengurangi esensi maupun sisi sastranya. Malah, menurut Prof Sudiana dan Ida Pedanda Wanasari, ada suatu keistimewaan untuk menjadikan spiritual yang lebih baik. Karena Catur Brata Penyepian nantinya akan bertemu Brata Saraswati, sehingga diharapkan bisa memberikan spirit dan kebijaksanaan oleh setiap umat yang nantinya digunakan dalam menjalani kehidupan. “Kita harus lebih yakin, tulus, dan ikhlas,” tutur Ida Pedanda Wanasari.

“Kalau Brata Saraswati dan Catur Brata Penyepian dipadukan, diharapkan dapat membuat diri seseorang itu bertambah spiritualnya, kebijaksanaannya, moralitasnya, dan auranya. Sekaligus membersihkan seluruh aura-aura negatif serta pikiran negatif dalam diri, juga memunculkan kedamaian di masa mendatang,” ujar Prof Sudiana.

Pasamuhan Madya II PHDI Bali kemarin juga mengundang peniti wariga sekaligus penyusun kalender Caka Bali, I Gede Marayana. Menurutnya, pertemuan dua hari raya ini adalah pertemuan langka yang baru saat ini terjadi. Mengacu pada tatanan rerahinan Hindu Bali dibagi menjadi dua yaitu berdasarkan pawukon (wuku) dan pesasihan (sasih). Bagi Marayana, pertemuan ini memang merupakan siklus yang harus terjadi karena pertemuan kedua sistem rerahinan itu. “Keduanya memiliki rotasi masing-masing. Secara umum, yang pakai rotasi pesasihan lamanya 354 hari. Sedangkan pawukon berotasi selama 210 hari. Nah, kelipatan dari keduanya pasti akan bertemu, dan pertemuan langka ini terjadi ketika Saraswati bertemu Nyepi tahun depan,” jelasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *