Sabtu, September 22News That Matters

Bangkai Anak Lumba-Lumba Ditemukan di Pantai Penimbangan

Bangkai anak lumba-lumba Bottle Nose ditemukan mengambang di Pantai Penimbangan, Desa Baktiseraga, Kecamatan Buleleng Sabtu (9/12) sekitar jam 12.30 wita. Diduga lumba-lumba ini terkena jaring lalu lemas dan tenggelam.

Bangkai hewan laut yang dilindungi itu saat ini diteliti oleh dosen Perikanan dan Kelautan Undiksha, Singaraja. Penemuan bangkai lumba-lumba Bottle Nose yang habitatnya banyak ditemukan di Pantai Penimbangan sampai di Pantai Celukan Bawang, Kecamata Gerokgak ini secara tidak sengaja.

Waktu itu, anggota Kelompok Nelayan (KN) Sari Segara Desa Baktiseraga sedang menyelam untuk mengawasi perkembangan terumbu karang yang baru saja ditenggelamkan beberapa waktu lalu. Pada saat tiga orang nelayan itu kembali ke daratan, terlihat bangkai ikan mengambang.

Lokasi ditemukan kalau dari daratan diperkirakan jaraknya sekitar 500 meter. Awalnya, diperkirakan temuannya itu ikan yang biasa ditangkap oleh nelayan untuk konsumsi. Akan tetapi, setelah dicermati ternyata anak lumba-lumba Botle Nose yang sudah mati.

Salah satu nelayan Gede Widnyana saat ditemui kemarin menceritakan, pada waktu ditemukan anak lumba-lumba itu sudah lemas dan tidak kuat berenang. Dia dan dua temannya bingung karena ikan temuannya itu adalah satwa yang dilindungi. Wiadnyana memutuskan untuk melaporkan temuan itu ke dosen Jurusan Biologi Universitas Pendidikan Ganseha (Undiksha).

Sejumlah dosen dan anggota Polisi Perairan (Polair) dan Dinas Perikanan Buleleng melakukan pemeriksaan bangkai ikan temuannya itu. “Kami setiap hari selalu menyelam karena baru saja menanam terumbu karang dan eksadom di pantai ini. Nah pada saat mau naik ke daratan saya melihat kok ada ikan ngambang dan kebetulan arusnya kecil jadi terombang-ambing di permukaan. Saya mendekat ternyata lumba-lumba dan langsung saya lapor ke tim peneliti Undiksha dan kepolisian,” ujarnya.

Mengenai penyebab kematiannya, Widnyana mengaku belum bisa memastikan apa penyebab anak lumba-lumba Bottle Nose tersebut mati. Tapi, dia memperkirakan gerombolan lumba-lumba Bottle Nose ini tersangkut jaring, sehingga berusaha melawan supaya lepas dari jeratan jaring.

Karena umurnya masih kecil, saat meronta ikan itu kehabisan tenaga dan lemas hingga di perutnya kemasukan air dan akhirnya mati di laut lepas. “Untuk itu kami serahkan kepada tim peneliti Undiksha biar dicari tahu penyebab kematiannya. Kalau perkiraan kami itu terkena jaring dan berusaha melawan dan kehabisan tenaga hingga mati,” katanya.

Sementara itu Dosen Jurusan Perikanan dan Kelautan Undiksha Gede Iwan Setiabudi menjelaskan dari pemeriksaan luar, lumba-lumba tersebut diperkirakan baru berusia dua tahun. Ukuran dari ujung mulut sampai ekor sekitar 80 centimeter.

Sementara pemeriksaan lain didapatkan bahwa pada ujung mulutnya ditemukan luka bekas jeratan tali dan pada siripnya juga ditemukan luka, tetapi tidak terlalu parah. Selain itu, dia juga mendapati adanya lendir putih di mulut hingga lidah.

Dari hasil pemeriksaan itu, Iwan belum berani memastikan penyebab kematian lumba-lumba Bottle Nose itu. Dirinya, hanya memperkirakan jika penyebab kematiannya diduga tersangkut jaring.

Selain meneliti penyebab kematian, dosen Jurusan Perikanan dan Kelautan Undiksha diberi izin untuk mengawetkan bangkai ikan tersebut. Izin ini diberikan setelah polisi, Dinas Perikanan, dan anggota nelayan memberikan rekomendasi kepada tim peneliti untuk mengawetkan bangkai lumba-lumba Botle Nose tersebut.

Tim dosen lalu melakukan pengawetan dengan teknik taxidermi menggunakan borak. Kemudian, bangkai ini dijadikan media pembelajaran mahasiswa Jurusan Perikanan dan Kelautan serta Biologi Undiksha. “Tadi isi perut telah kami keluarkan dan selanjutnya kami awetkan dan untuk bahan ajar bagi mahasiswa atau bisa juga untuk referensi penelitian tentang populasi lumba-lumba Bottle Nose di Buleleng,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *