Sabtu, September 22News That Matters

Pura Segara, Keberadaannya Harus Dilestarikan

Paruman Sulinggih seluruh Kota Denpasar kembali diselenggarakan pada Sabtu (9/12) di Wantilan Pura Desa Pakraman Peguyangan. Paruman yang dihadiri Walikota Denpasar IB. Rai Dharmawijaya Mantra ini membahas “Upaya Pelestarian Pura Segara Ditinjau dari Dharma Agama Hindu di Denpasar.” Paruman menghadirkan pembicara, diantaranya Pandita Mpu Daksa Yaksa Acharya Manuaba dan Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Dwija Hari Murti. Acara ini dihadiri sekitar 214 sulinggih.

Wali Kota Rai Mantra menjelaskan pembahasan Pura Segara menjadi pembahasan penting dalam pertemuan kali ini. Hal ini tak terlepas dari eksistensi Pura Segara yang merupakan salah satu potensi kebudayaan yang harus dilestarikan. Pura Segara juga tempat pemujaan Dewa Baruna untuk memohon supaya selalu memberikan kemakmuran kepada seluruh makhluk hidup. “Disinilah petunjuk para Sulinggih akan menjadi faktor pertimbangan Pemerintah Kota Denpasar dalam menentukan kebijakan terkait pelestarian Pura Segara di Kota Denpasar,” kata Rai Mantra.

Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Dwija Hari Murti dalam paparannya menjelaskan Pura Segara adalah salah satu tempat suci untuk memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Dewa Wisnu dan keberadaan di samudera sebagai Dewa Baruna. Oleh karena itu eksistensinya supaya tetap dilestarikan.

Keberadaan Pura Segara sebelumnya diketahui dari Dang Hyang Dwijendra, dibuktikan beliau mendatangi semua pura-pura di tepi pantai yang kemudian diberi konsep siwaistik (sarat dengan nilai ketuhanan). “Bukti bahwa Pura Segara memiliki konsep siwaistik, yaitu setiap orang tidak menghitung wangsa karena beliau yang melinggih di sana diyakini memberi kemakmuran, pengeleburan penyakit atau hama dan pengruwatan (penyucian),” ujarnya.

Ketua Panitia Paruman Sulinggih I Wayan Meganadha menerangkan, beberapa Pura Segara yang terdapat di Denpasar dipelihara dan diupacarai oleh perorangan, kelompok keluarga, banjar dan desa. Jika dari pengelola tersebut memiliki keterbatasan, Pemerintah Kota Denpasar maupun umat Hindu se-dharma patut membantu.

Dari hasil Paruman Sulinggih seluruh Kota Denpasar ini dipastikan bahwa Pura Segara keberadaannya tetap dipertahankan dan diberi kebebasan pajak dari pemerintah. Pemeliharaannya akan diserahkan ke pemerintah kota serta Dinas Kebudayaan dapat membantu menyusun purana tentang keberadaan pura tersebut, fungsi dan upacara yang dilaksanakan sehingga Pura Segara tetap lestari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *